Senin, 11 Januari 2016
Plato
Plato (427-327 SM)
Plato merupakan murid Socrates yang terinspirasi dari pemikiran gurunya. Cerita kehidupan Socrates banyak tertuang dalam karya Plato, diantaranya: Apology, Crito, Charmides, Laches, Euthyphro, Euthydemus, Cratylus, Protagoras, dan Gorgias. Selain itu ia juga menyumbangkan karya tentang metafisika, diantaranya: Menon, Symposium, Phaedo, Republic, dan Phaedrus. Karya-karya Plato yang lainnya antara lain: Theaetetus, Parmenides, Sophist, Statesmen, Philebus, Timaeus, dan Laws.[14]
Teori tentang Ide
Plato memakai konsep pengetahuan yang diajarkan oleh Socrates, yaitu terdapat kebenaran universal dalam setiap pengetahuan. Ia juga meneruskan metode dialektika dengan mengemukakan beberapa hipotesa pada setiap jawaban. Kemudian hipotesa tersebut dianalisa dengan memberikan keterangan-keterangan hingga sampai pada pengetahuan yang definitif.[15]
Setiap pengetahuan mengandung ide-ide yang terdapat di dalam pikiran manusia. Dalam menjelaskan ide-ide ini, Plato menjelaskan tentang fungsi rasio dan realitas (empiris). Rasio digunakan untuk mengenali ide-ide yang terdapat dalam pikiran maupun benda-benda kongkrit sehingga dicapai sebuah pengetahuan yang universal.[16]
Dalam menjelaskan tentang ide, Plato terpengaruh pemikiran gurunya Socrates. Socrates selalu mencari kebenaran dengan mengungkapkan definisi-definisi yang didapatkan dari hasil diskusi dengan menggunakan dialektika. Socrates berusaha menemukan hakikat dari kebenaran pengetahuan dengan menganalisis hipotesa yang ia dapatkan. Beranjak dari pemikiran ini, Plato meyakini bahwa ada ide universal yang terdapat dalam sebuah pengetahuan. Ide tersebut merupakan konsep yang sebenarnya dari sebuah pengetahuan, dengan kata lain konsep ideal dari sesuatu.
Dengan mengambil sampel dari kaum Phytagorian, Plato berusaha menjelaskan tentang segitiga. Sebuah segitiga adalah penyatuan garis lurus yang memiliki tiga sudut, hal ini yang kemudian dikembangkan oleh Phytagoras dan menyebutnya sebagai segitiga. Menurut Plato, ide tentang segitiga ini terdapat dalam pikiran manusia, sedangkan bentuk konkrit dari segitiga adalah sebuah usaha dari manusia untuk menggambarkan segitiga yang ideal, dengan kata lain segitiga konkrit tersebut adalah tiruan dari segitiga yang ideal.[17]
Dalam hal ini, Plato mengenalkan tentang konsep dua dunia, antara dunia realitas dan dunia pikiran. Realitas merupakan tiruan dari ide yang terdapat dalam pikiran manusia. Rasio digunakan untuk menganalisis setiap ide universal yang terdapat di dalam pikiran yang kemudian diwujudkan dalam realitas. Pengujian terhadap perwujudan dari ide tersebut dilakukan melalui ilmu pengetahuan untuk mengetahui sejauhmana ide tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk yang bisa ditangkap oleh panca indera.
Konsep ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh filsuf abad pertengahan. Mereka berusaha menggunakan imajinasi pikiran mereka untuk menemukan sesuatu yang baru yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Pemikiran ini yang kemudian melahirkan revolusi industri di Inggris dengan maraknya penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan seperti pembuatan mesin, otomotif maupun alat-alat produksi lainnya.
Teori tentang Etika
Plato menjelaskan tujuan hidup adalah untuk mencapai kesenangan. Kesenangan ini akan didapatkan dari pengetahuan tentang nilai-nilai baik dari realitas dan pikiran. Ide kebaikan ini nantinya akan mengarahkan manusia untuk mencapai keadilan dalam pergaulan hidup. Egoisme pribadi dan masyarakat harus dicegah agar tidak terjadi konflik antara satu orang dengan yang lainnya maupun dari beberapa kelompok.[18]
Dengan mempelajari ide kebaikan, manusia akan tahu dan mengerti dengan kebaikan tersebut. Orang yang telah mengerti tentang kebaikan tersebut akan mencintai kebaikan. Kebaikan ini disebut dengan budi yang bermakna tahu. Setelah mengetahui dan mencintai kebaikan maka manusia akan susah untuk meniadakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kecintaannya terhadap budi tersebut, manusia mulai menemukan keadilan dan berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya praktek keadilan ini hingga hubungan satu dengan yang lainnya akan semakin kuat dan terjadi kehidupan yang seimbang serta saling pengertian satu sama lain. Dari praktek yang seperti ini akan terpenuhi tujuan hidup untuk memperoleh kesenangan dimana setiap orang saling membantu dan saling mengerti satu sama lain sehingga kehidupan yang harmonis yang tercapai.
Teori tentang Negara
Menurut Plato, manusia adalah makhluk sosial yang saling terikat antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, kehidupan manusia yang ideal adalah hidup berkelompok yang teratur dan saling membantu satu sama lain. Kepentingan umum harus didahulukan daripada kepentingan pribadi, konsep keadilan bersama sangat penting hubungan bermasyarakat dan bernegara.[19]
Negara yang ideal memiliki tiga golongan, yaitu filsuf atau pemimpin, prajurit atau petugas keamanan, dan pekerja. Golongan filsuf adalah orang-orang yang terpilih dari golongan prajurit yang telah menempuh pendidikan dan latihan spesial. Mereka bertugas untuk membuat undang-undang dan aturan hukum. Golongan ini merupakan golongan yang ideal untuk menjadi pemimpin negara. Disamping itu, mereka juga memiliki dituntut untuk mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan untuk mencapai kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah syarat wajib bagi seorang pemimpin yang ideal.[20]
Golongan kedua adalah penjaga keamanan dan stabilitas negara. Golongan prajurit yang terbiasa dengan pertempuran dan latihan fisik merupakan sosok yang ideal untuk mengamankan negara dari serangan musuh. Selain itu mereka juga bertugas untuk mentertibkan masyarakat yang melanggar undang-undang negara maupun hukum yang berlaku.[21]
Golongan yang terakhir adalah golongan pekerja. Mereka terdiri dari petani, nelayan, buruh dan orang-orang yang bekerja di lingkungan sosial. Tugas mereka adalah untuk menciptakan keadaan ekonomi negara yang stabil dan menyediakan kebutuhan sosial. Mereka merupakan dasar kehidupan ekonomi dalam masyarakat, segala kebutuhan hidup bergantung pada hasil pekerjaan mereka. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk pandai menguasai diri dan menghindari egoisme agar tidak terjadi konflik dalam masyarakat.[22]
Menurut Plato, peraturan dasar dalam pemerintahan harus ditentukan melalui sebuah ajaran yang berdasarkan pengetahuan dan pengertian yang kemudian mendatangkan keyakinan bahwa pemerintah harus dipimpin oleh ide yang tertinggi yaitu ide kebaikan.[23] Oleh karena itu, pemimpin negara adalah seseorang yang harus memahami dengan benar tentang ide kebaikan tersebut. Keadilan adalah ketika setiap orang melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuannya.
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Plato ingin menunjukkan konsep pemerintahan yang ideal. Sosok pemerintah yang ideal adalah orang yang telah menempuh pendidikan khusus selama hidupnya sebagai prajurit hingga mengerti bagaimana menjaga stabilitas negara. Selain itu, mereka juga dituntut untuk mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan agar mencapai sebuah budi yang disebut budi kebijaksanaan.
Negara yang baik adalah negara yang mensejahterakan rakyatnya, oleh karena itu setiap pemimpin harus memiliki kebijaksanaan dalam membuat undang-undang dan mengatur rakyatnya. Golongan pekerja ditempatkan pada tempat bekerja dan diberikan upah yang sesuai dengan pekerjaannya, begitu juga golongan prajurit ditempatkan pada pos-pos keamanan agar bisa menjaga kedamaian baik di dalam maupun di luar ne
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar